METODELOGI PENDIDIKAN

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENELITIAN

PENGEMBANGAN
INSTRUMEN PENELITIAN

Disusun oleh:
Deka Zuhana
Linda Lia
Ria Arini

Dosen Pengampu:
Prof. Drs. Tatang Suhery, M.A., Ph.D
Dr. Efendi Nawawi, M.Si.

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG 2013

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENELITIAN

Deka Zuhana, Linda Lia dan Ria Arini

Pendahuluan
Pengembangan isntrumen penelitian sangatlah penting dilakukan supaya hasil penelitian menjadi baik dan valid. Intrumen memiliki peranan yang penting dalam menentukan mutu penelitian karena dari instrumen yang baik maka tingakt atau hasil penelitian akan teruji validitas dan reliabilitas suatu penelitian begitu juga sebaliknya jika instrumen tidak valid dan realibitas maka hasil penelitian dalam penarikan kesimpulan pun kurang valid dan realibitas.
Dalam pengumpulan data penelitian. Penelitian dapat menggunakan instrumen yang telah ada atau dapat pula menggunakan instrumen dibuat sendiri tetapi sebaiknya kita haruslah membuat instrumen penelitian sehingga instrumen sesuai dengan apa yang akan diteliti atau diujikan.
Namun kadangkala peneliti memilki kesulitan dalam mengembangkan instrumen itu sendiri dalam mengembangkan instrumen ada beberapa hal yang harus kita lakukan seperti menganalisi SK atau KD serta jenis tes apa yang bisa diberikan. Sulitnya membuat instrumen penelitian membuat banyak orang hanya menggunakan instrumen yang telah ada padahal idealnya intrumen yang baik haruslah dibuat sendiri dan telah dilakukan uji ahli. Berdasarkan pentingnya mengembangkan instrumen dalam penelitian maka dalam makalah ini kami akan membahas mengenai apa itu instrumen, apa langkah-langkah dalam menyusun instrumen dan apa jenis-jenis instrumen penelitian.
Tujuan dibuatnya makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pembaca maupun yang akan meneliti mengenai instrumen , langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menyusun instrumen serta jenis-jenis intrumen penelitian yang bisa digunakan dalam penelitian.
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk pengumpulan data penelitian. Karena alat atau instrumen ini menggambarkan juga cara pelakasanaanya maka sering juga disebut dengan teknik penelitian ( sanjaya :2013). Dapat disimpulkan bahwa instrumen adalah alat-alat yang digunakan untuk memperoleh atau menyimpulkan data dalam rangka memecahkan masalah penelitian atau mencapau tujuan penelitian.
2.2 Langkah –langkah penyusunan instrumen penelitian
Keberhasilan suatu penelitian sangat ditentukan oleh ketepatan instrumen yang digunakan untuk itu dalam penyusunannya disarankan untuk mengikuti langkah-langkah menurut sanjaya :2013 sebagai berikut:
1. Analisis Variabel Penelitian
Jenis intrumen yang bagaimana yang dianggap cocok untuk peneltian. Sangat tergantung kepada data yang ingin diperoleh. Seperti digambarkan dalam variabel peneltiian. Oleh karena itu analisis variabel penelitian menjadi subvariabel kemudian mengembangkannya menjadi indikator-indikator merupakan langkah awal sebelum instrumen itu dikembangkan. Proses penyusunan indikator dapat didasarkan kepada teori-teori yang melekat dengan variabel penelitian atau dapat juga berdasarkan pemahaman penelti setelah mengkaji hasil pengamatan atau survei lapangan. Misalnya : Ketika peneliti ingin mengadakan penelitian tentang hubungan antara tingkat sosial ekonomi orang tua dengan prestasi belajar siswa maka secara umum ada dua jenis variabel yang ada dalam masalah penelitian itu yakni data mengenai tingkat sosial ekonomi dan data mengenai prestasi belajar. rumusan setiap variabel itu kedalam indikator-indikator misalnya variabel tingkat sosial ekonomi indikatornya adalah tingkat ekonomi tinggi, rendah dan kurang. demikian juag hal yang sama bisa dilakukan untuk menjabarkan indikator prestasi belajar siswa.
2. Menetapkan Jenis intrumen
Jenis intrumen dapat ditetapkan manakala peneliti sudah memahami dengan pasti variabel dan indikator peneltian. Satu variabel mungkin hanya memerlukan lebih dari satu jenis intrumen. Misalnya ketika peneliti membutuhkan data tentang tingkat sosial ekonomi orang tua maka diperlukan instrumen angket dan pedoman wawancara. Demikian juga untuk memperoleh data tentang prestasi belajar diperlukan dokumentasi hasil belajar.
3. Menyusun Kisi-kisi atau lay out Instrumen
Kisi-kisi intrumen diperlukan sebagai pedoman dalam merumuskan item instrumen. Dalam kisi-kisi itu harus tercakup ruang lingkup materi variabel peneltiian serta waktu yang dibutuhkan selain dalam kisi-kisi juga tergambarkan indikator atau abilitas dari setiap variable misalnya menentukan prestas belajar atau kemampuan subjek peneltian, diukur dari tingkat pengetahuan, pemahaman , aplikasi dan lain sebagainya.
4. Menyusun Item Instrumen
Berdasarkan kisi-kisi yang telah disusun , langkah selanjutnya adalah menyusun item pertanyaaan sesuai dengan jenis isntrumen yang digunakan.
5. Mengujicobakan instrumen
Uji coba instrumen perlu dilakukan untuk mengehui tingkat reliabilitas dan validitas serta keterbacaab setiap item. Mungkin saja berdasrkan hasil uuji coba ada sejumlah item yang harus dibuang dan digantik dengan item yang baru setelah mendapatkan masukan dari subjek ujicoba.

2.2 Jenis-jenis Instrumen penelitian
Secara garis besar instrument penelitian sosial dan pendidikan terbagi menjadi dua bagian yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan pada latar yang alami (natural setting), lebih memperhatikan proses daripada hasil semata, dan yang terpenting adalah berusaha memahami makna dari suatu kejadian atau berbagai interaksi dalam situasi yang wajar
Oleh karena itu instrument yang digunakan bukanlah kuesioner atau tes, melainkan si peneliti itu sendiri. Pemanfaatan manusia sebagai instrument penelitian dilandasi oleh keyakinan bahwa hanya manusia yang mampu menggapai dan menilai makna dari suatu peristiwa atau berbagai interaksi sosial. Ada tujuh hal yang membuat manusia menjadi instrument yang memiliki kualifikasi baik, yaiti: (1) responsive, (2) adaptif, (3) holistic, (4) memahami konsep yang tak terkatakan, (5) mampu memproses data secara langsung, (6) mampu mengklasifikasi dan meringkas data dengan segera, (7) mampu mengeksplorasi respon yang khusus dan istimewa. Singkatnya semua alat – alat yang digunakan oleh peneliti kualitatif dalam mengumpulkan data adalah sekedar alat bantu, sedangkan instrument utamanya adalah dirinya sendiri.
Penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif adalah penelitian yang datanya berbasis pada angka yang kemudian diuji dengan menggunakan perhitungan statistik. Dalam hal ini penelitian kuantitatif dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu: (1) tes, (2) kuesioner, (3) pedoman observasi. Namun bila dikaji lebih jauh, sebagaimana yang akan ditunjukan pada bahasan mengenai tes, akan lebih tepat kalau instrument penelitian dipilahkan menjadi empat bagian, yaitu: (1) tes, (2) inventori, (3) kuesioner, (4) pedoman observasi.
Pemilahan instrument penelitian menjadi empat dipandang lebih tepat, karena masing – masing jenis instrument memiliki karakteristik yang khas. Dalam tes, khususnya tes objektif, dikenal adanya jawaban benar dan salah sehingga dapat diberi skor satu dan nol, masing – masing untuk jawaban benar dan salah. Dalam inventori dan kuesioner jarang ada pernyataan/pernyataan yang dapat dinilai secara benar dan salah.
Kuesioner digunakan untuk menjaring data yang bersifat informative factual, sehingga uji validitas butir secara empirik tidak dapat dilakukan. Akibatnya tingkat reliabilitas instrument yang berupa kuesioner tidak dapat diestimasi dengan menggunakan statistik. Sebaliknya, butir – butir pertanyaan – pertanyaan didalam tes dan inventori wajib diuji validitasnya secara empirik. Antara tes dan inventori ada kemungkinan menggunakan cara yang tidak sama.
Pedoman observasi digunakan oleh peneliti untuk mengumpulksn data yang dapat diamati secara nyata, maka pengujian validitas butir pernyataan dalam pedoman observasi tidak dapat dilakukan secara empirik. Begitu pula tingkat reliabilitasnya tidak dapat diestimasi dengan menggunakan pendekatan statistik.
1. Tes Sebagai Instrumen Penelitian
Dilihat dari aspek yang diukur , tes dibedakan menjadi dua bagian, yaitu tes non-psikologis dan tes psikologis. Jenis tes psikologis dibedakan lagi menjadi dua macam, yaitu tes psikologis yang mengukur aspek afektif dan tes psikologis yang digunakan untuk mengukur kemampuan intelektual. tes psikologis yang dirancang untuk mengukur aspek afektif atau aspek non-intelektual dari tingkah laku umumnya dikenal dengan nama tes kepribadian (personality tests). ”Tes kepribadian” paling banyak digunakan untuk mengukur karakteristik seperti : pernyataan emosional, hubungan interpersonal, motivasi, minat, dan sikap. Tes psikologis jenis inilah yang dalam bahasan selanjutnya disebut dengan nama inventory Tes psikologis yang dimaksudkan untuk mengukur aspek kemampuan intelektual disebut dengan nama tes kemampuan (ability tests). Termasuk dalam kategori tes kemampuan ini adalah tes bakat (aptitude tests) dan tes kemahiran (proficiency tests).
Agar tes yang kita buat mampu memenuhi ketiga kriteria itu secara optimal, maka dalam penyusunannya haruslah mengikuti prosedur dan melalui proses yang benar. Prosedur yang ditempuh dalam menyusun atau mengembangkan tes kemampuan dalam rangka penelitian pada dasarnya adalah sebagai berikut:
a. Penetapan Aspek yang Diukur
Dalam pengembangan tes hasil belajar ada dua aspek yang mendapat perhatian, yaitu: Materi pelajaran Aspek kepribadian (ranah kognitif, afektif, dan/ psikomotor) yang diukur.
b. Pendeskripsian Aspek yang Diukur
Pendeskripsian aspek yang diukur tidak lain dari penjabaran lebih lanjut dari definisi operasional variable yang telah dilakukan pada langkah pertama. Untuk penyusunan tes, deskripsi variable ini dituangkan dalam bentuk table spesifikasi atau lebih dikenal dengan nama kisi-kisi tes. Di dalamnya termuat materi pelajaran dan aspek kepribadian yang diukur, bentuk tes dan tipe soal yang digunakan, serta jumlah soal.
c. Pemilihan Bentuk Tes
Pemilihan bentuk tes di sini ialah tipe soal dilihat dari caranya peserta tes memberikan jawaban dan cara peneliti memberikan skor. Jika peserta tes memiliki kebebasan yang luas dalam menjawab soal-soal tes, maka dikatakan bahwa tes itu adalah tes subjektif (free answer tests). Sebaliknya, jika peserta tes tidak memiliki kebebasan dalam menjawab soal-soal tes, bahkan hanya tinggal memilih dari jawaban yang telah disediakan, maka tes itu disebut tes objektif (restricted answer tests).
d. Penulisan Butir Soal
e. Perakitan Butir Soal Perakitan butir soal ke dalam suatu tes didasarkan atas bentuk dan tipe soal yang dibuat, bukan disusun menurut urutan materi pelajaran. Buti-butir soal tes objektif dikelompokkan tersendiri, demikian juga halnya dengan soal-soal tes subjektif.
f. Pelaksanaan Uji Coba Tes
Kegiatan uji coba instrumen ini dimaksudkan untuk mengetahui: (1) validitas butir soal, (2) tingkat reliabilitas tes, (3) ketepatan petunjuk dan kejelasan bahasa yang digunakan, dan (4) jumlah waktu riil yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tes.
g. Analisi hasil uji coba
Analisi terhadap hasil uji coba tes dimaksudkan untuk mengetahui secara empirik validitas butir soal dan tingkat reliabilitas tes. Ukuran yang digunakan untuk menilai validitas butir soal adalah indeks kesukaran soal (P) dan indeks daya beda soal (D).
h. Seleksi, Penyempurnaan, dan Penataan Butir Soal
Seleksi atau penyempurnaan butir soal diperlukan karena biasanya selalu ada soal yang tidak memenuhi syarat dilihat dari kriteria tingkat kesukaran dan daya beda soal. Oleh sebab itu, jumlah soal yang ditulis untuk keperluan uji coba selalu harus lebih banyak dari jumlah yang diperlukan. Lazimnya soal yang tergolong mudah sebagian ditaruh di bagian paling awal dari tes, sedangkan yang sebagian lagi ditempatkan di bagian paling akhir.
i. Pencetakan Tes
Yang perlu mendapat perhatian dalam hal ini antara lain format, jenis dan model huruf yang digunakan. Format tes berkenaan dengan tata letak (lay out) dari soal-soal di dalam tes, sedangkan jenis dan model huruf erat hubungannya dengan besar dan kejelasan huruf yang digunakan. Semuanya ini perlu diperhatikan agar penampilan tes menjadi rapi, “indah”, dan jelas sehingga menarik untuk dikerjakan.
Jika kesembilan tahap dalam penyusunan tes tadi dapat dikerjakan dengan seksama, kiranya peluang untuk mmemperoleh tes yang valid dan reliable akan lebih besar.

2. Penyusunan Inventori
Inventori adalah instrument yang digunakan untuk mengukur karakteristik psikologis tertentu dari individu. Karena itu, inventori sering disinonimkan dengan tes kepribadian. Perbedaan yang Nampak jelas antara inventori dengan tes (kemampuan) ialah dalam hal sifat jawaban yang diberikan. Dalam inventori, jawaban yang diberikan merupakan suatu keadaan yang sewajarnya, suasana keseharian yang dirasakan dan dialami, atau sesuatu yang diharapkan. Dengan kata lain, dalam menjawab pernyataan/pertanyaaan di dalam inventori, orang tidak perlu belajar terlebih dahulu. Cukuplah kiranya jika ia dapat membaca dan/atau memahami hal-hal yang ditanyakan kepadanya. Karakteristik inventori yang demikian itu menuntut tata cara penyusunan yang berbeda dengan tes. Adapun prosedur yang dimaksud adalah:

a. Penetapan Konstruk yang Diukur
Konstruk menunjuk pada hal-hal yang pada dasarnya tidak dapat diamati secara langsung, seperti persepsi, minat, motivasi, sikap dan yang sejenisnya. Misalnya, variable yang akan diteliti adalah “ sikap nasionalisme siswa SMA”. Dari variable penelitian ini dapat diidentifikasi bahwa konstruk yang akan diukur adalah sikap.
b. Perumusan Definisi Operasional.
Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat – sifat hal yang didefinisikan sehingga dapat diamati. Adapun cara yang dapat ditempuh untuk menyusun definisi operasional variable jenis ini dikelompokan menjadi tiga bagian yaitu adalah:
– Yang menekankan pada kegiatan apa yang dilakukan agar konstruk yang didefinisikan itu terjadi.
– Yang memberikan aksentuasi kepada bagaimana kegiatan itu dilakukan.
 Yang menitikberatkan pada sifat – sifat statis dari konstruk.
Menyusun butir – butir pernyataan
Setelah deskripsi variable dapat dirampungkan, maka penulisan butir – butir pernyataan (items) dalam inventori akan dapat dilakukan secara lebih mudah. Kegiatan menulis pernyataan – pernyataan ini merupakan langkah yang kritis, karena dari pernyataan – pernyataan inilah akan dihasilkan data yang diperlukan. Kualitas penyataan yang dihasilkan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan pengetahuan yang bersifat teoritis, tetapi harus didukung oleh latihan yang terarah, pengalaman yang cukup, kreatifitas dan kesungguhan, disamping faktor kiat yang diimiliki oleh masing – masing peneliti.
 Pelaksanaan uji coba
Kegiatan uji coba instrument dalam proses penyusunan inventori mempunyai maksud yang sama dengan pelaksanaan uji coba tes. Bedanya dalam cara atau tekhnik yang digunakan untuk menguji validitas butir pernyataan dan mengestimasi tingkat reliabilitas instrument. Hal ini disebabkan oleh pemberian skor yang bersifat bergradasi.
Seperti halnya tes, subjek uji coba inventori harus memiliki karakteristik yang sama atau identik dengan subjek penelitian. Mengenai jumlah subjek yang diperlukan untuk keperluan uji coba ini berlaku rumus umum yang menyatakan bahwa semakin banyak subjek akan semakin baik. Jika subjek penelitian terbatas, sebaiknya jumlah subjek uji coba inventori tidak kurang dari 30.
 Analisi hasil uji coba
Dalam inventori, jawaban responden tidak dapat dinilai benar atau salah, melainkan bergradasi. Oleh sebab itu, validitas butir pernyataan hanya didasarkan atas indeks daya beda soal. Sedangkan perhitungan indeks daya beda soal ini dapat menggunakan tekhnik analisis korelasi atau uji beda nilai rata – rata. Selanjutnya, estimasi tingkat reliabilitas instrument menggunakan rumus penghitungan koefisien Alpha dan Kronbach.
Seleksi, penyempurnaan, dan penataan butir pernyataan
Jarang sekali semua butir pernyataan dalam suatu inventori dinyatakan valid setelah melalui proses uji coba. Pengalaman menunjukan bahwa selalu ada butir – butir pernyataan yang dinyatakan kurang atau tidak valid. Butir pernyataan yang tidak valid perlu diganti, sedangkan yang kurang valid masih dapat dipakai setelah disempurnakan, setelah itu barulah dilakukan penataan butir pernyataan.
Ada satu hal yang perlu ditambahkan dalam penyusunan inventori, yaitu kata pengantar. Lazimnya kata pengantar berisi penjelasan tentang maksud dan tujuan dilaksanakannya penelitian. Hal ini penting, untuk menghilangkan ketidakpastian, kecurigaan, dan kehawatiran dalam diri responden, sehingga mereka akan bersedia memberikan jawaban sebagaimana yang diharapkan. Etika penelitian sosial juga menyarankan agar maksud dan tujuan penelitian betul – betul jelas bagi responden sehingga asas informed consent terpenuhi (Smith, 1981:15). Rekomendasi dari instansi yang berwenang (misalnya pemerintah daerah, kanwil depdikbud) dapat dicantumkan sebagai kelengkapan isi kata pengantar. Selain itu jaminan akan kerahasiaan pribadi dan informasi yang diberikan responden penting juga diutarakan pada bagian pengantar. Bagian akhir biasanya berisi ucapan terimakasih atas kesediaan responden untuk membantu menyukseskan pelaksanaan penelitian.

3. Kuesioner Sebagai Instrument Penelitian
Kuesioner dari kata question = pertanyaan, adalah suatu daftar yang berisi serangkaian pertanyaan mengenai suatu hal dalam suatu bidang (Koentjaraningrat, 1980:215). Kuesioner banyak digunakan dalam penelitian pendidikan dan penelitian sosial yang menggunakan rancangan survei, karena ada beberapa keuntungan yang diperoleh, yaitu adalah:
 Dapat disusun secara teliti dalam situasi yang tenang sehingga pertanyaan – pertanyaan yang terdapat didalamnya dapat mengikuti sistematik dari masalah yang diteliti.
 Penggunaan kuesioner memungkinkan peneliti menjaring data dari banyak responden dalam periode waktu yang relative singkat.
Adapun kelemahan dari instrument kuesioner adalah sebagai berikut:
 Sulit bagi peneliti untuk menangkap kejadian atau suasana khusus pada waktu data dikumpulkan.
 Kurang memberi keleluasaan untuk mengubah susunan pertanyaan agar lebih cocok dengan alam fikiran atau pengetahuan para penjawab.
Penelitian yang hanya menggunakan kuesioner saja tidak dapat menghasilkan temuan yang mendalam dan utuh.

Adapun cara penyelesaian/mengantisipasi kelemahan diatas adalah dengan cara harus mempertimbangkan kesesuaiannya dengan sifat masalah yang digarap, tujuan yang hendak dicapai, jenis variable penelitian, dan karakteristik subjek penelitian.
• Penyusunan kuesioner
Prosedur penyusunan kuesioner hampir sama dengan prosedur penyusunan inventori. Bedanya terlihat pada langkah ke lima, yaitu pelaksanaan uji coba instrument. Dalam penyusunan kuesioner, kegiatan uji coba bukanlah untuk menguji validitas butir pertanyaan secara statistik, melainkan untuk mengetahui kejelasan petunjuk pengerjaan, kekomunikatifan bahasa yang digunakan, dan jumlah waktu riil yang dibutuhkan untuk dapat menjawab semua pertanyaan secara baik. Dengan demikian, prosedur yang ditempuh dalam menyusun kuesioner adalah:
a. Menetapkan objek yang akan diukur
b. Merumuskan definisi operasional
c. Membuat deskripsi dari objek yang diukur
d. Menyusun butir – butir pertanyaan
e. Melakukan uji coba
f. Menyempurnakan dan menata butir – butir prtanyaan dalam satu kesatuan secara sistematis.
Dalam menyusun butir – butir pertanyaan kuesioner ada dua hal yang perlu diperhatikan secara seksama, yaitu jenis pertanyaan yang dipergunakan dan tata urutannya didalam kuesioner. Dilihat dari bentuknya , pertanyaan yang dapat digunakan dalam kuesioner dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a. Pertanyaan terbuka (tak tersetruktur)
b. Pertanyaan tertutup ( terstruktur)
c. Pertanyaan semi terbuka

4. Penyusunaan Pedoman Pengamatan
Pedoman pengamatan (observasi) diperlukan terutama jika peneliti menerapkan pengamatan terfokus dalam proses pengumpulan data. Dalam pengamatan terfokus, peneliti memusatkan perhatiannya hanya pada beberapa aspek prilaku atau fenomena yang menjadi objek sasarannya. Misalkan seorang dosen mengadakan penelitian untuk mendskripsikan kemampuan mengajar para guru SMP di kabupaten Malang. Untuk keperluan ini ia menggunakan alat penilaian kemampuan guru (APKG) sebagai pedoman pengamatan.

III. PENUTUP
Instrumen adalah adalah salah satu alat yang digunakan dalam mendapatkan hasil penelitian. Pentingnya instrumen disusun dengan baik membuat seorang peneliti haruslah memiliki pengetahuan dalam penyusunan instrumen.
Kriteri dalam pengembangan instrumen ada 5 yaitu
1. Menganalisis Variabel Penelitian
2. Menetapkan Jenis Instrumen
3. Menyusun Kis-kisi atau lay out instrumen
4. Menyusun Intrumen
5. Mengujicobakan insturmen
Selain kriteria yang bisa diikuti dalam mengembangkan instrumen kita juga harus memahami jenis jenis isntrumen penelitian yaitu bisa menggunakan Tes, penyusunan Inventori , Kuesioner dan penyusunan pedoman pengamatan ( observasi)
.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. 2005. Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta .PT. Rineka Cipta
Sanjaya Wina. 2013. Penelitian pendidikan. Jakarta. Penerbit Kencana

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s