LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN

LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN

 

Deka Zuhana, Irma Dessy Arianie, Mailinda dan Ria Arini

Kata sejarah dari bahasa Inggris “HISTORY” yang sebenarnya kata HISTORY itu sendiri berasal dari bahasa Yunani ISTORIA yang berarti orang pandai. Sejarah/historis adalah suatu keadaan atau kejadian pada masa lampau dimana adanya peristiwa yang menjadi sebuah acuan untuk mengembangkan suatu kegiatan atau kebijakan pada saat ini. Mempelajari sejarah sangatlah penting karena dengan mempelajari sejarah manusia memperoleh banyak informasi dan manfaat sehingga menjadi lebih arif dan bijaksana dalam menentukan sebuah kebijakan.Sejarah adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah penuh dengan informasi-informasi yang mengandung kejadian, model, konsep, teori, praktik, moral, cita-cita, bentuk dan sebagainya (Pidarta, 2007: 109).

Sedangkan pendidikan adalah sebuah proses yang arif dan terencana dan berkesinambungan guna mendorong atau memotivasi  peserta didik dalam mengembangkan  potensi anak.  Pendidikan juga sebagai usaha sadar yang sistematis selalu bertolak dari sejumlah landasan.dalam hal ini landasan histori pendidikan di indonesia  akan memberikan arah atau kebijakan  terhadap pembentukan manusia di indonesia.

Seorang ahli pendidikan sebelum menangani pendidikan maka  terlebih dahulu mereka  memeriksa sejarah tentang pendidikan  baik yang bersifat nasional maupun internasional (Pidharta 2009 : 110). Dengan melihat sebuah sejarah maka mereka bisa melihat tujuan dari pendidikan tersebut apakah sudah cocok dengan kondisi pada saat ini. Guna membantu pendidik dalam mengenal pendidikan maka dalam makalah ini akan dibahas landasan historis pendidikan di indonesia, Sejarah pendidikan di dunia dan Pendidikan di Indonesia masa kini serta Berbagai problematika yang dicatat sejarah terkait pendidikan Hal ini bertujuan agar Mengetahui landasan historis Pendidikan Nasional Indonesia, mengetahui Sejarah pendidikan di dunia dan Pendidikan di Indonesia masa kini serta mengetahui problematika pendidikan di Indonesia masa kini.

 

Landasan historis memberikan peranan yang penting karena dari sebuah landasan historis atau sejarah bisa membuat arah pemikiran kepada masa kini. Menurut Pidharta , (2007 : 109) sejarah/historis adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah penuh dengan informasi-informasi yang mengandung kejadian, model, konsep, teori, praktik, moral, cita-cita, bentuk dan sebagainya.

Dengan demikian, setiap bidang kegiatan yang ingin dicapai manusia untuk maju, pada umumnya dikaitkan dengan bagaimana keadaan bidang tersebut pada masa yang lampau (Pidarta, 2007: 110). Demikian juga halnya dengan bidang pendidikan. Sejarah pendidikan merupakan bahan pembanding untuk memajukan pendidikan suatu bangsa.

Ada beberapa zaman yang memiliki pengaruh pada dunia pendidikan yaitu zaman-zaman:

Zaman Realisme

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan alam yang didukung oleh penemuan-penemuan ilmiah baru, pendidikan diarahkan pada kehidupan dunia dan bersumber dari keadaan dunia pula, berbeda dengan pendidikan-pendidikan sebelumya yang banyak berkiblat pada dunia ide, dunia surga dan akhirat. Realisme menghendaki pikiran yang praktis (Pidarta, 2007: 111-114). Menurut aliran ini, pengetahuan yang benar diperoleh tidak hanya melalui penginderaan semata tetapi juga melalui persepsi penginderaan (Mudyahardjo, 2008: 117).

Tokoh-tokoh pendidikan zaman Realisme ini adalah Francis Bacon dan Johann Amos Comenius. Intisari pandangan aliran Realisme tentang pendidikan  meliputi: Anak-anak harus belajar dari alam, Belajar dengan metode induktif, Mementingkan aktifitas anak, Mengutamakan pengertian, Ekspresi kata untuk menyatakan pengertian menjadi penting, Belajar melalui bahasa ibu, Belajar dibantu oleh gambar-gambar, Materi dipelajari satu demi satu dari yang mudah ke yang sukar, Pelajaran disesuaikan dengan perkembagan anak, Pendidikan bersifat demokratis yaitu untuk semua anak  (ibid.: 113-114).

Zaman Rasionalisme

Aliran ini memberikan kekuasaan pada manusia untuk berfikir sendiri dan bertindak untuk dirinya, karena itu latihan sangat diperlukan pengetahuannya sendiri dan bertindak untuk dirinya. Paham ini muncul karena masyarakat dengan kekuatan akalnya dapat menumbangkan kekuasaan Raja Perancis yang memiliki kekuasaan absolut.

Tokoh pendidikan pada zaman ini pada abad ke-18 adalah John Locke. Teorinya yang terkenal adalah leon Tabularasa atau a blank sheet of paper, yaitu mendidik seperti menulis di atas kertas putih dan dengan kebebasan dan kekuatan akal yang dimilikinya manusia digunakan unutk membentuk pengetahuannya sendiri. Teori yang membebaskan jiwa manusia ini bisa mengarah kepada hal-hal yang negatif, seperti intelektualisme, individualisme, dan materialisme (ibid.: 114-115).

Proses belajar menurut John Locke ada tiga langkah, yaitu:

  • Ø Mengamati hal-hal yang ada di luar diri manusia
  • Ø Mengingat apa yang telah diamati dan dihafalkan
    • Ø Berpikir, yaitu mengolah bahan-bahan yang telah diperoleh tadi, ditimbang-timbang untuk diri sendiri (ibid.:114)

 Zaman Naturalisme

Sebagai reaksi terhadap aliran Rasionalisme, pada abad ke-18 muncullah aliran Naturalisme dengan tokohnya, J. J. Rousseau. Aliran ini menentang kehidupan yang tidak wajar sebagai akibat dari Rasionalisme, seperti korupsi, gaya hidup yang dibuat-buat dan sebagainya. Naturalisme menginginkan keseimbangan antara kekuatan rasio dengan hati dan alamlah yang menjadi guru, sehingga pendidikan dilaksanakan secara alamiah (pendidikan alam) (ibid.: 115-16). Naturalisme menyatakan bahwa manusia didorong oleh kebutuhan-kebutuhannya, dapat menemukan jalan kebenaran di dalam dirinya sendiri (Mudyaharjo, 2008: 118).

Menurut Rousseau ada tiga asas mengajar, yaitu:

  • Asas pertumbuhan, pengajaran harus member kesempatan untuk anak-anak bertumbuh secara wajar dengan cara mempekerjakan mereka, sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya.
  • Asas aktivitas, melalui bekerja anak-anak akan menjadi aktif, yang akan memberikan pengalaman, yang kemudian akan menjadi pengetahuan  mereka.
  • Asas individualitas, dengan cara menyiapkan pendidikan sesuai dengan individualitas masing-masing anak, sehingga mereka berkembang menurut alamnya sendiri. (ibid.: 116)

 Zaman Developmentalisme

Zaman Developmentalisme berkembang pada abad ke-19. Aliran ini memandang pendidikan sebagai suatu proses perkembangan jiwa sehingga aliran ini sering disebut gerakan psikologis dalam pendidikan. Tokoh-tokoh aliran ini adalah: Pestalozzi, Johann Fredrich Herbart, Friedrich Wilhelm Frobel di Jerman, dan Stanley Hall Amerika Serikat.

Intisari konsep pendidikan yang dikembangkan oleh aliran ini meliputi:

  • Ø Mengaktualisasi semua potensi anakyang masih laten, membentuk watak susila dan kepribadian yang harmonis, serta meningkatkan derajat social manusia.
  • Ø Pengembangan ini dilakukan sejalan dengan tingkat-tingkat perkembangan anak (Pidarta, 2007: 116-20) yang melalui observasi dan eksperimen (Mudyahardjo, 2008: 114)
  • Ø Pendidikan adalah pengembangan pembawaan (nature) yang disertai asuhan yang baik (nurture).
  • Ø Pengembangan pendidikan mengutamakan perbaikan pendidikan dasar dan pengembangan pendidikan universal (Mudyaharjo, 2008: 114)

Zaman Nasionalisme

Zaman nasionalisme muncul pada abad ke-19 sebagai upaya membentuk patriot-patriot bangsa dan mempertahankan bangsa dari kaum imperialis. Tokoh-tokohnya adalah La Chatolais (Perancis), Fichte (Jerman), dan Jefferson (Amerika Serikat).

Konsep pendidikan yang ingin diusung oleh aliran ini adalah:

  • Ø Menjaga, memperkuat, dan mempertinggi kedudukan negara,
  • Ø Mengutamakan pendidikan sekuler, jasmani, dan kejuruan,
  • Ø Materi pelajarannya meliputi: bahasa dan kesusastraan nasional, pendidikan kewarganegaraan, lagu-lagu kebangsaan, sejarah dan geografi Negara, dan pendidikan jasmani.

Akibat negatif dari pendidikan ini adalah munculnya chaufinisme di Jerman, yaitu kegilaan atau kecintaan terhadap tanah air yang berlebih-lebihan di beberapa negara, seperti di Jerman, yang akhirnya menimbulkan pecahnya Perang Dunia I (Pidarta, 2007: 120-21).

 Zaman Liberalisme, Positivisme, dan Individualisme.

Zaman ini lahir pada abad ke-19. Liberalisme berpendapat bahwa pendidikan adalah alat untuk memperkuat kedudukan penguasa/pemerintahan yang dipelopori dalam bidang ekonomi oleh Adam Smith dan siapa yang banyak berpengetahuan dialah yang berkuasa yang kemudian mengarah pada individualisme. Sedangkan positivisme percaya kebenaran yang dapat diamati oleh panca indera sehingga kepercayaan terhadap agama semakin melemah. Tokoh aliran positivisme adalah August Comte (ibid.: 121).

Zaman Sosialisme

Aliran sosial dalam pendidikan muncul pada abad ke-20 sebagai reaksi terhadap dampak liberalisme, positivisme, dan individualisme. Tokoh-tokohnya adalah Paul Natorp dan George Kerchensteiner di Jerman serta John Dewey di Amerika Serikat.

Menurut aliran ini, masyarakat memiliki arti yang lebih penting daripada individu. Ibarat atom, individu tidak ada artinya bila tidak berwujud benda. Oleh karena itu, pendidikan harus diabdikan untuk tujuan-tujuan sosial (ibid.: 121-24).

Sejarah Pendidikan Indonesia

Pendidikan di Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang. Dari zaman  zaman kuno/tradisional yang dimulai dengan zaman pengaruh agama Hindu dan Budha, zaman pengaruh Islam, zaman penjajahan, dan zaman merdeka (ibid.: 125). Ada 3 tokoh yang berjuang melalui pendidikan yaitu tokoh – tokoh tersebut adalah Mohammad syafei, Ki Hajar Dewantara dan Kyai Haji Ahmad Dahlan. Mohammad syafei mendirikan sekolah INS (indonesisch nederlandse school) di sumatera barat pada tahun 1962. Sekolah ini dikenal dengan sekolah kayu tanam yang bertujuan membina anak- anak ke arah hidup yang merdeka melalui pendidikan hidup mandiri, model sekolah INS adalah asrama . tokoh berikutnya adalah Ki Hajar Dewantara yang mendirikan taman siswa. Sifat sistem dan metode pendidikan di ringkas ke dalam empat kawasan yaitu asas taman siswa , panca darma, adat istiadat dan semboyan atau lambang. Semboyan yang terkenal yang di buat oleh Ki Hajar dewantara adalah ing ngarsa sung telada, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani. Tokoh selanjutnya Ahmad Dahlan  yang mendirikan organisasi Islam dengan nama Muhammadiyah. Pendidikan muhammadiyah ini sebagian besar memusatkan diri pada pengembangan agama islam dengan tujuan mewujudkan orang muslim yang berakhlak mulia dan percaya kepada diri sendiri.

Ada beberapa Sejarah pendidikan yang memiliki peranan penting untuk diketahui ,yaitu keadaan pendidikan di masa Belanda , Jepang dan pendidikan indonesia Masa kini

Zaman Kolonial Belanda

Pada Awal Abad ke 20  masalah pendidikan mendapat perhatian yang besar oleh pemerintah belanda  hal itu berhubungan dengan dilaksanakan politik etis. Sekolah sekolah mulai banyak didirikan namun tetap pembangunan sekolah tidaklah seimbang dengan jumlah pendduduk. Didirikannya sekolah desa dan sekolah modern. Sistem pendidikannya masih menyangkut kepentingan belanda tujuannya pendidikan tersebut yaitu agar anak indonesia bisa dipekerjakan menjadi pegawai rendah.

Sejak dijalankannya Politik Etis ini tampak kemajuan yang lebih pesat dalam bidang pendidikan selama beberapa dekade. Secara umum, sistem pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda sejak diterapkannya Politik Etis dapat digambarkan sebagai berikut: (1) Pendidikan dasar meliputi jenis sekolah dengan pengantar Bahasa Belanda untuk anak belanda (ELS), (HCS) indonesia, dan (HIS) cina. sekolah dengan pengantar bahasa daerah (IS, VS, VgS), dan sekolah peralihan. (2) Pendidikan lanjutan yang meliputi pendidikan umum (MULO,HBS, AMS) dan pendidikan kejuruan.

Menurut (Nasution.M.A, 1983:145) ada 6 prinsip politik pendidikan kolonial belanda di indonesia yaitu : pertama : dualisme dalam pendidikan dengan adanya sekolah anak belanda dan untuk anak pribumi, untuk anak orang berada dan tidak berada; kedua : Gradualisme yang ekstrim dengan mengusahakan pendidikan rendah yang sederhana mungkin bagi anak indonesia; ketiga : prinsip konkordansi yang memaksa semua sekolah berorientasi barat mengikuti model sekolah di nederland dan menghalangi penyesuannya dengan keadaan di indonesia; keempat : Kontrol sentral yang ketat; kelima : tidak adanya perencanaan pendidikan sistematis dan keenam : pendidikan pegawai sebagai tujuan utama sekolah.

Zaman Kolonial Jepang

Masa jepang kegiatan pendidikan dan pengajaran menurun akibatnya angka buta huruf meningkat oleh karena itu diadakannya program  pemberantasan buta huruf yang di pelopori oleh Putera Namun Di bidang pendidikan Jepang telah menghapus dualisme pendidikan dari penjajah Belanda dan menggantikannya dengan pendidikan yang sama bagi semua orang. Jepang menerapkan beberapa kebijakan terkait pendidikan yang memiliki implikasi luas terutama bagi sistem pendidikan di era kemerdekaan. Hal-hal tersebut antara lain: (1) Dijadikannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pengantar pendidikan menggantikan Bahasa Belanda; (2) Adanya integrasi sistem pendidikan dengan dihapuskannya sistem pendidikan berdasarkan kelas sosial di era penjajahan Belanda.

Sistem pendidikan pada masa pendudukan Jepang itu kemudian dapat diikhtisarkan sebagai berikut: (1) Pendidikan / Sekolah Rakyat). Lama studi 6 tahun. Termasuk SR adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi di masa Hindia Belanda. (2) Pendidikan Lanjutan. Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun. Sekolah guru terdiri dari  sekolah guru 2 tahun, sekolah guru 3 tahun dan sekolah guru lama pendidkannya 6 tahun. (waridah, sukardi, & sunarto, 2003 : 179).

Zaman Kemerdekaan sampai saat ini

Setelah indonesia merdeka  hal yang dilakukan adalah melakukan pembangunan pada saat itu di bangunlah pembangunan dalam bidang ekonomi diharapkan bidang ekonomi bisa mendukung bidang-bidang yang lainnya.seiringnya berjalannya waktu pemerintah pendidikan terus berkembang ke arah yang lebih baik hal ini telah ditandainya muncul Pasal 2 tahun 1989 yang mengatur tentang sistem  pendidkan. Saat ini sistem pendidikan nasional terdapat pada UU RI No. 20 Th. 2003, Bab VI, Jalur, Jenjang dan Jenis Pendidikan, Bagian kesatu, Umum, pasal 13, jalur pendidikan terdiri atas pendidiknan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya pendidikan.

Secara UUD memang pemerintah telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik-baiknya, setiap tahun dan setiap ada pergantian pimpinan selalu berupaya menyempurnakan kurikulum, pola dan starategi pembelajaran, namun demikian penyempurnaan tersebut hanya terarah kepada pembinaan pengetahuan dan keterampilan, terarah pada pembinaan pola dan sterategi pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan. Akan tetapi Peningkatan Mutu menjadi sebuah PR yang belum terselesaikan oleh pemerintah saat ini. Karena belum adanya pemerataan pendidikan, sehingga mutu pendidikan pun masih belum sesuai dengan yang di kehendaki.

Isu-Isu Problematika dalam Histori Pendidikan

Ada beberapa isu yang kami angkat dalam makalah ini yaitu masalah Pemerataan pendidikan.Mutu Pendidikan

Masalah Pemerataan Pendidikan

Masalah pemerataan pendidikan adalah bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang luas dalam mendapat pembelajaran. Masalah pemerataan pendidikan ini  timbul masih banyak warga negara yang tidak ditampung dalam sistem pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan. Dalam hal ini harusnya pemerintah membangun sekolah SD Kecil pada tempat terpencil atau bisa dibuat sistem guru kunjung.

Masalah Mutu Pendidikan

Isu selanjutnya  yaitu tentang mutu pendidikan. Mutu pendidikan menjadi sebuah masalah karena kebanyakan hasil yang dinilai dari sebuah mutu itu hanya di nilai dari sebuah nilai kognitifnya atau nilai akhir dari Ujian nasional dan Mutu nilai tersebut harus sama antara desa dan kota. Sehingga proses pembelajarannya terfokus untuk meraih nilai UN tersebut. Padahal ada yang harus dipikirkan oleh guru yaitu bagaimana membentuk seorang anak sehingga ilmu yang di dapat tersebut dapat dibawa dalam dunia kerja.

 Masalah Otonomi Daerah dalam bidang pendidikan

Otonomi daerah sebagai salah satu bentuk desentralisasi pemerintahan, pada hakikatnya ditujukan untuk memenuhi kepentingan bangsa secara keseluruhan, yaitu upaya untuk lebih mendekati tujuan-tujuan penyelenggaraan pemerintah untuk mewujudkan cita-cita  masyarakat yang lebih baik, suatu masyarakat yang lebih adil dan lebih sejahtera.

Desentralisasi bidang pendidikan dimulai dengan keluarnya UU No.22/1999 tentang Pemerintah Daerah dan kemudian ditindak lanjuti dengan PP No. 20 tentang Peribangan Keuangan Daerah yang di dalamnya mengatur tentang sektor-sektor yang didesentralisasikan dan yang tetap menjadi urusan Pemerintah Pusat. Pendidikan termasuk salah satu sektor yang didesentralisasikan, sehingga sejak itu pendidikan terutama dari TK sampai dengan SMA menjadi urusan kabupaten/kota. Sedangkan pendidikan tinggi menjadi urusan Pemerintah Pusat dan Provinsi..

Sejak urusan pendidikan didesentralisasikan, signal-signal adanya banyak masalah baru sudah tampak. Diantaranya, adalah tarik menarik kepentingan untuk urusan guru serta saling lempar tanggung jawab untuk pembangunan gedung sekolah. Pengelolaan guru menjadi tarik menarik, karena jumlahnya yang banyak, sehingga banyak kepentingan politik maupun ekonomi yang bermain di dalamnya. Sedangkan pembangunan gedung sekolah, utamanya gedung SD menjadi lempar-lemparan tanggung jawab antara Pemerintah Pusat dan Pemda karena besarnya dana yang diperlukan untuk itu. Sementara, di lain pihak, baik Pemerintah Pusat maupun Pemda sama-sama mengeluh tidak memiliki dana.

Masalah Kurikulum

Perkembangan Kurikulum di indonesia selalu berubah-ubah dalam pendidikan masa kini kurikulum yang di pakai yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan angin segar bagi dunia pendidikan dasar dan menengah. KTSP dimaknai sebagai kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Ini berarti satuan pendidikan tertantang untuk menterjemahkan standar isi yang ditentukan oleh Depdiknas. Bahkan diharapkan sekolah mampu mengembangkan lebih jauh standar isi tersebut.

Meskipun sekolah diberi kelonggaran untuk menyusun kurikulum, namun tetap harus memperhatikan rambu-rambu panduan KTSP yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Hal ini diharapkan agar selalu ada sinkronisasi antara standar isi dan masing-masing KTSP.

Dalam prakteknya, peluang ini juga akan menghadapi kendala yang tidak ringan, Pertama, belum semua guru atau bahkan kepala sekolah mempunyai kemampuan untuk menyusun kurikulum. Kedua, semua komite sekolah atau bahkan orang Depdiknas belum memahami tatacara penyusunan sebuah kurikulum yang baik. Ketiga, kebingungan pelaksana dalam menerjemahkan KTSP.

Sudah sering dikemukakan oleh berbagai kalangan, ketidaklogisan KTSP terjadi karena seolah diberikan kebebasan untuk mengolaborasikan kurikulum inti yang dibuat Depdiknas, tetapi evaluasi nasional oleh pemerintah dengan melalui Ujian Nasional (UN) justru yang paling menentukan kelulusan siswa.

 

Kesimpulan

 

Dari rangkaian masa dalam sejarah yang menjadi landasan historis kependidikan di Indonesia, kita dapat menyimpulkan bahwa sejarah sangatlah penting untuk diketahui apalagi sejarah pendidikan indonesia dari perjuangan para tokoh-tokoh pendidik di indonesia serta peran pemerintah untuk mengembang dunia pendidikan.Seluruh perjuangan yang dilakukan  sama-sama menginginkan pendidikan bertujuan mengembangkan individu peserta didik, dalam arti memberi kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan potensi mereka secara alami dan seperti ada adanya, tidak perlu diarahkan untuk kepentingan kelompok tertentu. Sementara itu, pendidikan pada dasarnya hanya memberi bantuan dan layanan dengan menyiapkan segala sesuatunya. Sejarah juga menunjukkan betapa sulitnya perjuangan mengisi kemerdekaan dibandingkan dengan perjuangan mengusir penjajah.

Dengan demikian mereka berharap hasil pendidikan dapat berupa ilmuwan, innovator, orang yang peduli dengan lingkungan serta mampu memperbaikinya, dan meningkatkan peradaban manusia.

Hal ini dikarenakan pendidikan selalu dinamis mencari yang baru, memperbaiki dan memajukan diri, agar tidak ketinggalan jaman, dan selalu berusaha menyongsong zaman yang akan datang atau untuk dapat hidup dan bekerja senafas dengan semangat perubahan zaman.

Akhir kata, pendidikan mewariskan peradaban masa lampau sehingga peradaban masa lampau yang memiliki nilai-nilai luhur dapat dipertahankan dan diajarkan lalu digunakan generasi penerus dalam kehidupan mereka di masa sekarang. Dengan mewariskan dan menggunakan karya dan pengalaman masa lampau, pendidikan menjadi pengawal,perantara,dan pemelihara peradaban. Dengan demikian, pendidikan memungkinkan peradaban masa lampau diakui eksistensinya dan bukan merupakan “harta karun” yang tersia-siakan.

  

DAFTAR PUSTAKA

Buchori, Mochtar. 1995. Transformasi Pendidikan. Jakarta: IKIP Muhammadiyah Jakarta Press.

Dardjowidjojo, Soenjono. 1992. PTS dan Potensinya di Hari Depan: Memoir Seorang PUrek I. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Nasution.M.A, P. D. (1983). Sejarah pendidikan indonesia. bandung: jemmars bandun

Mudyahardjo, Redja. 2008. Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal tentang Dasar-Dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Pidarta, Made. 2007. Landasan Pendidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sigit, Sardjono. 1992. Peranan dan Partisipasi Perguruan Swasta di Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia

Waridah, s., sukardi, j., & sunarto, p. (2003). sejarah nasional dan umum. jakarta:    PT. Bumi aksara.

 

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s