SISTEM SOSIAL DAN DIFUSI INOVASI PENDIDIKAN

MAKALAH KELOMPOK 1

SISTEM SOSIAL DAN DIFUSI INOVASI PENDIDIKAN

MATA KULIAH DIFUSI DAN INOVASI DALAM PENDIDIKAN

 

Dosen Pengampu:

Dr. Aisyah, M.Pd.

Dr. Nyayu Khodijah, M.Si.

Disusun oleh:

Mailinda (NIM: 06122503050)

Ria Arini (NIM: 06122503048)

 

 

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2013

SISTEM SOSIAL DAN DIFUSI INOVASI PENDIDIKAN

  1. I.     Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

          Dalam dunia pendidikan memerlukan sebuah inovasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebuah inovasi tentunya memerlukan proses difusi dalam memasarkan atau memromosikan sebuah inovasi itu sendiri. Difusi adalah proses komunikasi inovasi antar warga masyarakat (anggota sistem sosial), dengan menggunakan saluran tertentu dan dalam waktu tertentu. komunikasi dalam hal ini diartikan sebagai bahwa adanya bertukar informasi  antara beberapa individu masyarakat. Dengan adanya komunikasi maka akan adanya persamaan pendapat antar warga masyarakat tentang sebuah inovasi.

Dalam Difusi terdapat empat elemen pokok difusi inovasi yaitu inovasi, komunikasi dengan saluran tertentu,  waktu dan  warga masyarakat (anggota sistem sosial). Sistem sosial dapat mempengaruhi sebuah inovasi dapat diterima ataupun tidak.  Sehingga penting sekali untuk mengenal sistem sosial secara rinci karena salah satu sebuah inovasi dapat sukses jika sebuah inovasi itu didifusikan sesuai dengan sistem sosial yang ada.

Sistem sosial adalah individu yang saling berhubungan atau bekerja sama dalam memecahkan masalah. Ada beberapa sistem sosial dan difusi inovasi pendidikan dalam masyarakat. Serta ada  empat hal dalam sistem  sosial yang mempengaruhi difusi inovasi yaitu struktur sosial.  norma,  pendapat  pemimpin dan agen perubahan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan Banyaknya informasi yang harus diketahui dalam elemen difusi yang keempat yaitu sistem sosial maka pada makalah ini kami akan membahas tentang

  1. Apa itu Sistem sosial?
  2. Siapa saja anggota Sistem sosial?
  3. Apa yang mempengaruhi Difusi inovasi dalam Sistem Sosial

 

1.3.  Tujuan

Makalah ini di buat dengan harapan dapat memberikan informasi Tentang sistem sosial dan difusi inovasi dalam pendidikan secara rinci

II.  PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Sistem Sosial

Konsep sistem sosial terdiri dari dua suku kata sistem dan sosial. Secara Etimologis, bahwa kata Sistem merupakan kata serapan yang berasal dari  bahasa Yunani yaitu systema. Menurut (Damsar, 2011) : Sistem merupakan  suatu kelompok elemen-elemen yang saling berhubungan secara independen ( Saling ketergantungan)  dan konstan.

Sedangkan Kata Sosial, salah satunya dapat  berakar  dari kata latin , yaitu socious yang berarti  bersama-sama, bersatu, terikat , sekutu berteman. Atau kata Socio yang bermakna menyekutukan, menjadi teman, mengikat atau mempertemukan. Secara Etimologis kata sosial  dimengerti  sebagai  sesuatu  yang dihubungkan atau dikaitkan dengan teman, pertemanan dan masyarakat.

Kedua kata diatas ada hubungan yang erat antara Sistem dan sosial.  menurut Robert M.Z. Lawang di dalam (Damsar, 2011) sistem sosial adalah sejumlah kegiatan atau sejumlah orang yang berhubungan timbal balik  kurang lebih bersifat konstan.  Sedangkan Menurut  (Roger, 1995) sistem sosial adalah adalah hubungan (interaksi) antara individu atau unit dengan bekerja sama untuk memecahkan masalah guna mencapai tujuan tertentu. demikian juga pada               (Ibrahim,1988) Menyatakan bahwa Sistem Sosial merupakan ikatan bagi anggotanya dalam melakukan kegiatan artinya antar anggota tentu saling pengertian dan hubungan timbal balik.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Sistem Sosial adalah Sekelompok manusia memiliki tujuan yang sama sehingga mereka saling bekerja sama  dalam memecahkan sebuah masalah

2.1. Anggota dari Sistem Sosial

Anggota sistem sosial yaitu individu, kelompok-kelompok informal, organisasi dan sub sistem yang lain. Contoh dari sistem sosial itu sendiri yaitu Petani di pedesaan, pegawai , dokter dan sebagainya. Semua anggota sistem sosial bekerja sama untuk memecahkan masalah guna mencapai tujuan bersama. Dengan demikian maka sistem sosial merupakan ikatan bagi anggotanya dalam melakukan kegiatan artinya ada hubungan timbal balik.

2.1.1 Masyarakat sebagai Sistem Sosial

            Menurut Paul B. Horton dalam  Candra Artikel (2012) akses di  Http://candrawesly.blogspot.com/2012/06/unsur-unsur -sistem- sosial- dan .html

Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, yang hidup bersama-sama cukup lama, yang mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama dan melakukan sebagian besar kegiatan dalam kelompok itu. Pada bagian lain Horton mengemukakan bahwa masyarakat adalah suatu organisasi manusia yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Sebagai suatu sistem, individu-individu yang terdapat di dalam masyarakat saling berhubungan atau berinteraksi satu sama lain, misalnya dengan melakukan kerja sama guna memenuhi kebutuhan hidup masing-masing.

2.1.2 Penerima Inovasi (Anggota Sistem Sosial)

Orang-orang yang berada dalam sistem sosial itu walaupun merupakan suatu kesatuan namun mereka itu berbeda dalam tanggapan dan penerimaannya terhadap ide baru. Ada anggota sistem yang cepat mengetahui adanya inovasi dan lebih awal menerimanya dan ada pula yang begitu terlambat.

Rogers (1995) mengelompokkan pengadopsi inovasi sebagai berikut:

  1. Perintis (innovator), yang mencakup sekitar 2.5 persen dari suatu populasi,
  2. Pelopor (earlyadopter) sekitar 13.5 persen,
  3. Penganut dini (early majority) sekitar 34 persen,
  4. Penganut lambat (late majority) sekitar 34 persen, dan
  5. Kaum kolot (laggard) sekitar 16 persen.

2.2 Hal-hal yang mempengaruhi difusi dalam Sistem sosial

Difusi inovasi terjadi dalam suatu sistem sosial. Dalam suatu sistem sosial terdapat struktur sosial, individu atau kelompok individu, dan norma-norma tertentu. Berkaitan dengan hal ini, Rogers (1995) menyebutkan adanya empat faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi. Ke empat faktor tersebut adalah: 1) struktur sosial (social structure); 2) norma sistem (system norms); 3) pemimpin opini (opinion leaders); dan 4) agen perubah (change agent).

2.2.1. Struktur Sosial

Struktur dalam hal ini diartikan sebagai pedoman peraturan unit dalam suatu sistem. Dengan adanya struktur ini maka dapat menimbulkan ketertiban dan kestabilan tingkah laku dalam sistem sosial (Ibrahim 1988: 67).

Struktur sosial adalah susunan suatu unit sistem yang memiliki pola tertentu. Struktur ini memberikan suatu keteraturan dan stabilitas prilaku setiap individu (unit) dalam suatu sistem sosial tertentu.

Struktur sosial juga menunjukan hubungan antar anggota dari sistem sosial. Hal ini dapat dicontohkan seperti terlihat pada struktur oranisasi suatu perusahaan atau struktur sosial masyarakat suku tertentu. Struktur sosial dapat memfasilitasi atau menghambat difusi inovasi dalam suatu sistem karena struktur sosial sangat berpengaruh dalam proses komunikasi.  Katz (1961) dalam Rogers seperti dikutip oleh Rogers (1995:25) menyatakan bahwa sangatlah bodoh mendifusikan suatu inovasi tanpa mengetahui struktur sosial dari adopter potensialnya, sama halnya dengan meneliti sirkulasi darah tanpa mempunyai pengetahuan yang cukup tentang struktur pembuluh nadi dan arteri.

Penelitian yang dilakukan oleh Rogers di Korea terhadap program Keluarga berencana memiliki karakteristik yang sama. Sepeti buta huruf, memiliki anak 2 dan berumur 29 tahun. Serta suami mereka sama-sama tamat SMTA. Tetapi tinggal di desa yang berbeda yang Desa A kecepatann menerima informasinya lebih tinggi dengan desa B. Diberkan informasi dengan fasilitas dan data yang sama.

Berdasarkan data tersebut akan adanya sebuah struktur sosial dan proses komunikasi yang akan mempengaruhi seseorang dalam menerima sebuah inovasi. Ketika Desa A warga masyarakat sudah bisa menerima inovasi maka mereka akan memberikan dorongan untuk wanita di desa A menerima Inovasi tersebut. Sedangkan di desa B belum akan terjadi sebuah Dorongan dari warga masyarakat             Berdasarkan Cerita diatas dapat disimpulkan bahwa perbedan Struktur Sosial maka akan mempengaruhi seseorang dalam menerima sebuah Inovasi.

2.2.2. Norma sistem sosial dan difusi

Norma adalah suatu pola prilaku yang dapat diterima oleh semua anggota sistem sosial yang berfungsi sebagai panduan atau standar bagi semua anggota sistem social. Sistem norma juga dapat menjadi faktor penghambat untuk menerima suatu ide baru. Norma adalah aturan yang berlaku di kehidupan bermasyarakat. Aturan yang bertujuan untuk mencapai kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan sentosa.(Arkan:2011) akses di http://organisasi.org/pengertian-macam-jenis-norma-agama-kesusilaan-kesopanan-kebiasaan-hukum)

Norma yang berlaku pada suatu sistem sosial berpengaruh terhadap kecepatan penerimaan inovasi. Norma yang berlaku dalam sistem sosial merupakan pedoman tingkah laku anggota sistem sosial yang ditaati. Norma memberikan petunjuk tentang standart perbuatan para anggota sistem sosial. (Ibrahim 1988:68).

Apabila sebuah inovasi bertentangan dengan Norma maka akan mempengaruhi sebuah inovasi itu cepat diterima atau tidak. Hal ini sangat berhubungan dengan derajat kesesuaian (compatibility) inovasi dengan nilai atau kepercayaan masyarakat dalam suatu sistem sosial. Jadi, derajat ketidak sesuaian suatu inovasi dengan kepercayaan atau nilai-nilai yang dianut oleh individu (sekelompok masyarakat) dalam suatu sistem social berpengaruh terhadap penerimaan suatu inovasi tersebut.

Menurut. (Priyanto, Djaenudin, Priyanto, Choisin, & A.R, 2008) Norma terdiri dari beberapa jenis, antara lain yaitu : Norma Agama,  Norma Kesusilaan,  Norma Kesopanan,  Norma Kebiasaan (Habit), dan  Norma Hukum.  Penjelasan dan Pengertian Masing-Masing Jenis/Macam Norma Yang Berlaku Dalam Masyarakat yaitu :

1. Norma Agama

Norma Agama adalah suatu norma yang berdasarkan ajaran aqidah suatu agama. Norma ini bersifat mutlak yang mengharuskan ketaatan para penganutnya.  Sebuah Inovasi apabila bertentangan dengan agama maka akan sulit diterima oleh Sistem sosial seperti contoh adanya Inovasi keluarga berencana yang dicanangkan oleh pemerintah. Hal ini sulit diterima oleh masyarakat pertama kali dikeluarkan karena bertentangan dengan norma Agama.                                                                      2. Norma Kesusilaan                                                                                 

Norma Kesusilaan adalah norma yang didasarkan pada hati nurani atau ahlak manusia. Melakukan pelecehan seksual adalah salah satu dari pelanggaran dari norma kesusilan. Inovasi  yang mungkin sulit diterima dalam  Norma kesusilaan ini misalnya dalam proses belajar di sekolah anak diberikan penjelasan mengenai “ Sex edukasi” hal ini sulit diterima oleh orang tua atau masyarakat karena faktor-faktor bahwa Pelajaran itu tidak penting. Selain itu misalnya ada sebuah inovasi mengenai Mode pakaian yang dibuat oleh pendesain namun pakaian itu kurang sesuai dengan norma kesusilaan seperti tidak sesuai dengan kebudayaan timur.

3. Norma Kesopanan                                                                                                                                     Norma Kesopanan Adalah norma yang berpangkal dari aturan tingkah laku

yang berlaku di masyrakat. Cara berpakaian dan bersikap adalah beberapa contoh

dari norma kesopanan.

4.      Norma Kebiasaan (Habit)

Norma ini merupakan hasil dari perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Orang-orang yang tidak melakukan norma ini dianggap aneh oleh anggota masyarakat yang lain. Kegiatan melakukan acara selamatan, kelahiran bayi dan mudik atau pulang kampung adalah contoh dari norma ini.

5. Norma Hukum

Norma Hukum adalah himpunan petunjuk hidup atau perintah dan larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat (negara). Sangsi norma hukum bersifat mengikat dan memaksa. Melanggar rambu-rambu lalu lintas adalah salah satu contoh dari norma hukum.                                                     Berdasarkan pengetahuan mengenai norma yang ada di dalam masyarakat maka ada baiknya kita sebagai pembuat Inovasi hendaklah memikirkan apakah inovasi kita tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada sehingga Inovasi bisa diterima lebih cepat.

2.2.3  Agen Pembaharu

Dalam  Masyarakat terdapat Agen pembaharu yang bisa mempengarhui sebuah difusi. Agen pembaharu adalah pekerja profesional yang berusaha mempengaruhi klien atau sasaran inovasi  untuk mengambil keputusan mengikuti inovasi sesuai dengan tujuan yang akan dicapai oleh Lembaga Pembaruan dimana dia bekerja (Ibrahim 1988:70).

Mereka yang termasuk agen pembaharu adalah  guru, penyuluh lapangan, pekerja sosial, juru dakwah, missionaris. Dalam pengertian yang lebih luas: penjaja dagangan, kader partai di desa, juru penerang, konsultan atau siapa saja yang berusaha menawarkan gagasan-gagasan baru, barang-barang baru atau tindakan-tindakan baru (inovasi) kepada anggota masyarakat dan berusaha agar orang-orang itu mengadopsi inovasi yang ditawarkan bisa disebut agen pembaru.

Fungsi utama agen pembaru adalah: menjadi mata rantai penghubung antara dua sistem sosial atau lebih. Sebagai contoh, penyuluh pertanian lapangan adalah mata rantai yang menghubungkan Dinas Pertanian dengan para petani. Agen pembaru tidak selalu orang pemerintah, bisa juga orang swasta atau tenaga sukarela. Hal itu tercermin dalam peranan utama seorang agen perubahan Havelock, (1973) dalam Artikel Badri: 2008 akses di  http://ruangdosen.wordpress.com/2008/09/12/sistem-sosial-dalam-komunikasi-inovasi/ yaitu:

  1. Sebagai katalisator, menggerakkan masyarakat untuk mau melakukan perubahan.
  2. Sebagai pemberi pemecahan persoalan.
  3. Sebagai pembantu proses perubahan : membantu dalam proses pemecahan masalah dan penyebaran inovasi
  4. Sebagai penghubung (linker) dengan sumber-sumber yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan agen pembaru:

  1. Gencarnya usaha promosi
  2. Lebih berorientasi pada klien
  3. Kerjasama dengan opinion leader/ tokoh masyarakat
  4. Kredibilitas agen pembaru di mata klien

2.2.4. Opinion Leader

Dalam melakukan difusi Inovasi kadang kala terdapat hambatan-hambatan yang menyebabkan sebuah inovasi itu sulit diterima dikarenakan pengaruh struktur sosial atau bertentangan dengan Norma. Sehingga dibutuhkan seseorang yang memiliki kepercayaan besar oleh masyarakat. Orang tersebut sering disebut dengan pemuka pendapat atau Opinion leader.

Opinion leader atau Pemuka pendapat  adalah orang yang mampu mempengaruhi  orang lain agar mngubah sikap atau tingkah lakunya secara minimal ke arah sebuah perubahan yang dikehendaki. (Ibrahim:1988:69) Opinion leader atau pemuka pendapat mempunyai keunggulan dari masyarakat kebanyakan. Maka sepantasnya jika mempunyai karakteristik yang membedakan dirinya dengan yang lain.

 

Menurut Nurudin, (2005:160) Karakteristik Pemuka pendapat dibandingkan dengan orang lain yaitu :

  1. Memiliki Pendidikan formal yang ditinggi dibandingkan dengan anggota masyarakat lain;
  2. Memiliki Status sosial yang lebih Tinggi
  3. Lebih inovatif dalam menerima dan mengadopsi ide baru;
  4. Lebih tinggi dalam pengenalan medianya;
  5. Kemampuan empatinya lebih besar;
  6. Partisipasi sosialnya lebih besar;
  7. Lebih kosmopolit (mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas)

Rogers (1995) menjelaskan karakteristik pemuka pendapat yang membedakan dari masyarakat lainnya, yaitu:

  1. Pemuka pendapat mempunyai ekspose lebih besar ke mass media dibandingkan para pengikutnya;
  2. Pemuka pendapat lebih kosmopolit daripada pengikutnya;
  3. Pemuka pendapat mempunyai hubungan lebih luas dengan agen perubahan dibandingkan pengikutnya;
  4. Pemuka pendapat memiliki partisipasi sosial lebih besar dibanding pengikutnya;
  5. Pemuka pendapat memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan pengikutnya;
  6. Pemuka pendapat lebih inovatif dibandingkan pengikutnya;
  7. Ketika suatu sistem norma sosial menyukai perubahan, para pemuka pendapat menjadi lebih inovatif, tetapi ketika norma-norma tidak menyukai perubahan, maka para pemimpin pendapat tidak terlalu inovatif.

Besarnya pengaruh seorang pemuka pendapat memiliki peran keduanya bisa menghambat dan mempermudah sebuah proses difusi. Sehingga Pemuka pendapat sangat berperan dalam menjadi pusat komunikasi interpersonal dalam jaringan komunikasi sistem sosial.

III.   PENUTUP

Sistem sosial sangatlah berpengaruh terhadap proses difusi inovasi pendidikan. Sebagaimana telah di tuliskan bahwa sistem sosial adalah Sistem Sosial adalah Sekelompok manusia memiliki tujuan yang sama sehingga mereka saling bekerja sama  dalam memecahkan sebuah masalah.

Anggota sistem sosial dapat berupa Individu, Kelompok-kelompok , organisasi atau subsistem lainnya. Salah satu contoh adalah Masyarakat adalah anggota dari sistem Sosial atau bisa juga digolongkan ke dalam kelompok pengadopsi Inovasi.

Ada 4 hal dalam sistem sosial yang mempengaruhi difusi yaitu Struktur sosial, Norma, Agen Pembaharu dan Pemuka pendapat. Masing-masing memiliki peranan yang penting dalam menentukan proses difusi inovasi pendidikan.

            Setelah mengenal lebih luas tentang sistem sosial diharapkan dalam membuat sebuah inovasi dapat diterima oleh masyarakat.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arkan.( 2011). Pengertian Norma. Akses tanggal 20 April 2013 di  http://organisasi.org/pengertian-macam-jenis-norma-agama-kesusilaan-kesopanan-kebiasaan-hukum).

Badri,(2008). Sistem sosial dalam Komunikasi Inovasi. Akses tanggal 20 April 2013 di http://ruangdosen.wordpress.com/2008/09/12/sistem-sosial-dalam-komunikasi-inovasi/

Candra.(2008). Unsur-unsur sistem sosial. Akses Tanggal 20 April 2013 di Http://candrawesly.blogspot.com/2012/06/unsur-unsur -sistem- sosial- dan .html

Damsar. (2011). Pengantar Sosiologi pendidikan. Jakarta: PT. Kencana.

Nurudin. 2005. Sistem Komunikasi Indonesia. Rajawali Pers. Jakarta.

Priyanto, A. S., Djaenudin, Priyanto, H. A., Choisin, & A.R, M. (2008). Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: BSE Departemen pendidikan Nasional.

Rogers, E. M. 1995, Diffusion of Innovations: Fourth Edition. Free Press. New York.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s